My adventure, my vision, my confession.

Showing posts with label My Opinion. Show all posts
Showing posts with label My Opinion. Show all posts

It's Not Always You Say and They Do.

When you tell your judgement to people about themselves, you would get those two spontaneous reactions: Rejections or acceptance. Mostly, rejections for negative (bad) judgement and acceptance for good ones. Both of those will later lead them into long-term, pasca-judgement, reactions: Change themselves or stay with their current personality.

Most people think when they tell someone about his/her what-they-think negative traits, that someone would change his/her into positive. Because, yes, a negative traits is supposed to be changed indeed. But there's some weakness here:
  1. Your judgement is not always true, 
  2. Not everyone could improve themselves that way, and 
  3. A judgement could happen to affect human subconscious.
Here's the example:

You say to someone that you think she's so generous. After that, unconsciously, she will start regularly give money to beggars. Why? Because 1. She is generous. Or 2. She thinks she is.
That's example for positive judgement. Let's move to the negatives.
Example 2. You say to someone that you think she's so noisy and annoying. From this movements, we will get two reactions:
  1. She will start controlling her mouth, realizing how her fussiness could annoy people around her, and start listening to others. Nice.
  2. She will become even fussier. She start to devil-may-care with people's mind. Part of self development? Maybe yes. Maybe no.


I bet most of you think the reason why she is fussier is that she's only rejecting the judgment. She can't accept criticism. But no guys, there's one reason again: She's accepting what you said about her. Her mind is unconsciously persuade her that she is it is. Which is, your judgment, since it's based on your opinion, is very likely to be false.

And none of us want that.

That's what I learn from become a such kind of fortune-teller these past years. It's not just about telling people prediction. It's about people life. We are not God, don't play God then. Like that.

We are meant to be good to people, but sometimes, what we do is, in reality, not always come out good. But still, there must be a better way.



Thanks for reading.
@elnalalita

ANALISIS PARTISIPASI MAHASISWA D1 STAN DALAM KEMAHASISWAAN KAMPUS


Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) adalah pendidikan tinggi kedinasan di bawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang menyelenggarakan pendidikan Program Diploma Bidang Keuangan (Prodip Keuangan). Tercatat pada tahun 2012, mahasiswa aktif STAN terdiri dari mahasiswa program DIV, DIII, DIII Khusus, serta program DI dengan spesialisasi-spesialisasi, diantaranya: Kepabeanan dan Cukai, Kebendaharaan Negara, Pajak, Pengurusan Piutang dan Lelang Negara, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Akuntansi. Keunikan dari kampus ini adalah pendidikan dilaksanakan tidak hanya di satu tempat melainkan tersebar di beberapa kota di Indonesia. Selain itu, jadwal akademik dari tiap program pendidikan tidak lah sama. Keunikan-keunikan ini tentunya merupakan hambatan sekaligus tantangan sendiri bagi Sekretariat selaku penanggungjawab akademik resmi serta organisasi kemahasiswaan yang ada di kampus.
Selaku sebuah organisasi yang menjunjung tinggi demokrasi, partisipasi dari setiap anggota tentunya merupakan sebuah hal yang wajib ada dan selalu diharapkan.
Didasari oleh luasnya subjek, maka ada baiknya bila ruang lingkup untuk bahasan kali ini ditetapkan.
Partisipasi
Secara harfiah, ‘partisipasi’ dapat diartikan sebagai ‘keikutsertaan’. Menurut Keith Davis, partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya. Partisipasi juga didefinisikan sebagai suatu gejala demokrasi dimana orang diikutsertakan dalam suatu perencanaan serta dalam pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang mental serta penentuan kebijaksanaan. Dengan demikian, dari sini sebuah ‘partisipasi’ dapat dibagi menjadi dua secara garis besar yakni: Partisipasi aktif (berupa fisik) dan partisipasi pasif (mental).
Mahasiswa DI STAN
‘Mahasiswa’ di sini adalah mahasiswa aktif yang sedang menempuh pendidikan Diploma I di kampus Ali Wardhana (Jurangmangu) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Kemahasiswaan Kampus
Yang dimaksud dengan ‘kemahasiswaan kampus’ adalah kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang dilakukan atau diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa STAN (KM STAN).
MENENGOK SATU TAHUN KE BELAKANG
Pendidikan mahasiswa Diploma I untuk tahun ajaran 2011/2012 dimulai pada akhir 2011, tepatnya pada tanggal 5 Desember 2011. Dengan kata lain adalah terlambat kurang lebih dua bulan dari mayoritas mahasiswa STAN di kampus Ali Wardhana. Selain itu, perbedaan jadwal UTS, UAS, liburan, serta kuliah terasa sangat jelas mengingat pemadatan yang harus dilaksanakan di program DI.
Euforia pertama muncul ketika orientasi belajar mahasiswa dilakukan. Hal ini adalah sangat penting dikarenakan seharusnya bisa menjadi jembatan awal hubungan antara mahasiswa DI dengan mahasiswa program lainnya. Namun sayangnya masalah langsung muncul pada poin yang masih muda ini.
Terhalang oleh terbenturnya jadwal akademik, akhirnya hanya sedikit mahasiswa ‘senior’ yang dapat berperan aktif dalam ospek. Hal tersebut membuat renggangnya jarak antara mahasiswa DI dengan mahasiswa lainnya. Berbagai kabar manis maupun pahit mulai beredar simpang siur. ‘Pendatang baru’ ini dipandang sebagai orang asing, meskipun semestinya dia adalah saudara kita. Yang apabila terus berlanjut akan menimbulkan pesimisme serta kecurigaan dalam Keluarga Mahasiswa STAN.
Hal ini rupanya disadari oleh teman-teman Keluarga Mahasiswa STAN. Akhirnya muncul berbagai inisiatif dari organsisasi mahasiswa dan acara untuk memasukkan partisipasi dari rekan-rekan program Diploma I.
Salah satu contoh mudahnya adalah pada salah satu acara terbesar yang ada di kampus Ali Wardhana ‘Festival Budaya Nusantara’ yang dilaksanakan pada awal April 2012 yang lalu. Di dalam kegiatan ‘Putra Putri Nusantara’ terdapat terhitung cukup banyak peserta dari mahasiswa Diploma I yang bahkan berhasil masuk ke Top 5 pada malam final.
Selain Festival Budaya Nusantara, juga terdapat berbagai kegiatan lain yang sangat terbuka dengan partisipasi rekan Diploma I di dalamnya. Sebut saja program Tax Awards 2012, berbagai kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), serta open recruitment kepanitiaan di STAN yang sangat terbuka dengan partisipasi semua mahasiswa.
Hal tersebut menunjukkan adanya antusiasme dan keinginan untuk menjalin persaudaraan dari kedua belah pihak, baik mahasiswa DI maupun mahasiswa non DI. Dengan kata lain, partisipasi fisik secara aktif dari mahasiswa DI adalah cukup bagus.
Bagaimana dengan partisipasi pasif?
Perkara yang tidak bisa disalahkan adalah terlambatnya teman-teman Diploma I dalam memulai masa kuliah. Yang dengan kata lain, terpaut sekitar setengah tahun dari masa pergantian kursi kader berbagai organisasi mahasiswa di KM STAN. Keanggotaan secara formal dalam kepengurusan di baik Badan Eksekutif Mahasiswa maupun Himpunan Mahasiswa Spesialiasi dengan otomatis ditiadakan. Terlambatnya mahasiswa Diploma I ini tentunya juga sedikit mengebiri hak mereka untuk dapat menjadi perwakilan suara di Badan Legislatif Mahasiswa. Hal ini tentu merupakan sebuah dilema yang cukup berat mengingat dalam sebuah organisasi berasas demokrasi, partisipasi dari seluruh anggota merupakan hal yang sangat penting karena salah satu sebabnya adalah seluruh kebijakan kemahawiswaan yang diambil akan berdampak kepada seluruh anggota mahasiswa. Kekhawatiran yang mungkin terjadi adalah semakin renggangnya jarak antara mahasiswa Diploma I dengan mahasiswa lainnya. Juga timbulnya skeptisme dari mereka yang suaranya seolah tidak didengarkan. Periode perkuliahan mahasiswa Diploma I yang dapat dibilang sangat singkat tentunya tidak bisa dijadikan alasan sebagai dikosongkannya kursi suara mereka karena mereka adalah bagian dari Keluarga Mahasiswa STAN juga.
Dari penjabaran di atas kita dapat menarik beberapa kesimpulan.
Yang berhasil dicapai dan harus dipertahankan :
 Keramahan event-event di STAN untuk semua kalangan. Inisiatif untuk melakukan pemerataan subjek partisipasi sangat baik dan harus terus dipertahankan serta dikembangkan. Semangat dari semua pelaku hendaknya terus dijaga. Kesungguhan untuk menyelesaikan problem yang ada harus terus diajaga.
Problem serta solusi :
1.            Kesadaran dan keinginan mahasiswa STAN untuk menjadi satu keluarga.
2.            Sasaran Kegiatan
Pengikutsertaan mahasiswa Diploma I sebagai sasaran kegiatan adalah hal yang sangat penting. Hal ini dapat diperluas ke pengikutsertaan mahasiswa lainnya juga yakni mahasiswa DIII Khusus serta mahasiswa DIV. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting untuk menyatukan seluruh elemen mahasiswa yang ada di kampus.
3.            Jadwal kuliah yang berbenturan.
Perbedaan jadwal dan mas kuliah merupakan alasan utama ketidakhadirannya partisipasi dari mahasiswa Diploma I dalam berbagai kegiatan yang ada di STAN baik yang berupa event maupun organisasi. Untuk dapat menyelesaikan masalah ini, yang harus dilakukan adalah adanya penyesuaian jadwal antara kedua belak pihak. Ada baiknya bila sebelum mengadakan sebuah acara, penyelenggara melihat terlebih dahulu jadwal yang ada di kalender akademik setiap program pendidikan.
4.            Program jangka panjang dan masa kuliah yang berbenturan
Yang dimaksud dengan program jangka panjang ini adalah sebuah program kemahasiswaan di STAN yang akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, kurang lebih satu tahun, dengan contoh yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa, HMS, BLM, dan lain sebagainya. Ada baiknya bila di depan nanti, terdapat rancangan peraturan istimewa agar dapat mengakomodasi partisipasi mahasiswa DI STAN. Ini adalah sebuah langkah yang memang tidak mudah dilakukan tetapi akan berdampak besar. Selain merupakan perwujudan dari asas keadilan, hal ini akan sangat membantu dalam perwujudan KM STAN yang kompak. Bila kita melihat lebih jauh lagi, hal ini juga akan memperkuat ikatan alumni yang ada di STAN.
5.            Tidak dibukanya program DIII
Isu yang ramai diperdebatkan akhir-akhir ini adalah besarnya kemungkinan tidak dibukanya lagi program Diploma III untuk periode yang panjang. Hal ini menjadi polemik disebabkan harus diakui bahwa mayoritas partisipan dalam kegiatan KM STAN adalah mahasiswa program Diploma III. Dan apabila tetap bertahan dengan segala aturan serta keadaan yang ada, maka sudah hampir dapat dipastikan eksistensi Keluarga Mahasiswa STAN akan segera berakhir. Hal tersebut tentu akan sangat disayangkan oleh berbagai pihak. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah penyusunan aturan serta perancangan agar mahasiswa Diploma I, yang memiliki prospek eksistensi di kampus Ali Wardhana lebih besar, dapat menjadi kader kepemimpinan yang ada di KM STAN. Tidak hanya secara soft skill melainkan juga secara hukum formal.

Kembali harus ditekankan bahwa langkah-langkah demikian bukanlah sebuah langkah yang instan dan mudah untuk dilakukan. Berbagai hambatan dan resiko tentu akan dihadapi. Namun demikian, langkah paling utama yang harus dilakukan adalah memulai serta berani mencoba. Demi KM STAN yang jauh lebih baik.
ELNA LALITA
TINGKAT 2 DIII ADM. PERPAJAKAN
Dibuat sebagai syarat wajib pencalonan dalam PEMIRA 2012 sekalian curhat.

Dilema Pembangunan: Kepemimpinan dalam Sebuah Negara Berkembang

Pada zaman yang modern ini, semua negara di dunia nampak ramai bersaing untuk dapat menjadi negara yang maju dan sejahtera. Pembangunan nasional merupakan subuah topik yang hangat dan ramai diperbincangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini disebabkan karena pembangunan adalah dapat dikatakan syarat mutlak agar suatu negara bisa berkembang. Salah satu mosi yang banyak diperdebatkan saat ini adalah wacana mengenai keharusan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan. Namun sebelum kita membahas mengenai bab tersebut, mari kita mulai dengan membahas terlebih dahulu mengenai pembangunan sendiri.
Pembangunan
Menurut Deddy T. Tikson (2005) bahwa pembangunan nasional merupakan transformasi ekonomi, sosial dan budaya secara sengaja melalui kebijakan dan strategi menuju arah yang diinginkan. Transformasi dalam struktur ekonomi, misalnya, dapat dilihat melalui peningkatan atau pertumbuhan produksi yang cepat di sektor industri dan jasa, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan nasional semakin besar. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian akan menjadi semakin kecil dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan industrialisasi dan modernisasi ekonomi. Transformasi sosial dapat dilihat melalui pendistribusian kemakmuran melalui pemerataan memperoleh akses terhadap sumber daya sosial-ekonomi, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih, fasilitas rekreasi, dan partisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik. Sedangkan transformasi budaya sering dikaitkan, antara lain, dengan bangkitnya semangat kebangsaan dan nasionalisme, disamping adanya perubahan nilai dan norma yang dianut masyarakat, seperti perubahan dan spiritualisme ke materialisme/sekularisme. Pergeseran dari penilaian yang tinggi kepada penguasaan materi, dari kelembagaan tradisional menjadi organisasi modern dan rasional.
Dari penjabaran di atas, dapat kita tarik beberapa poin penting mengenai pembangunan. Salah satunya adalah bahwa pembangunan secara garis besar dapat dibagi menjadi dua: Pembangunan yang bersifat materiil (misalnya pembangunan ekonomi) dan pembangunan yang bersifat spiritual (kemajuan kualitas tiap individu), di mana kedua macam pembangunan tersebut memiliki resiko masing-masing apabila tidak dilaksanakan atau sedikit diabaikan.
Bagi negara maju, pelaksanaan pembangunan di kedua bidang tersebut secara bersamaan mungkin bukanlah sebuah hal yang sulit dilaksanakan melihat pada dasarnya mereka sudah memiliki sumber daya yang diperlukan. Pada negara maju, perekonomian cenderung sudah stabil dan mandiri. Kemampuan masyarakat negara maju pun secara umum, misalnya kita lihat dari bidang pendidikan, adalah rata-rata lebih tinggi. Masyarakatnya pun adalah masyarakat yang kritis serta aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Polemik terjadi dalam negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Sudah lebih dari 66 tahun kita merdeka, perkembangan yang telah kita capai masih belum jelas terasa. Bahkan dapat dikatakan sudah tertinggal jauh dibanding negara lain yang usianya dapat dikatakan lebih muda daripada kita. Berbagai kalangan telah berusaha mengkaji dan berdiskusi mengenai pembangunan di bidang apakah yang harus kita prioritaskan. Kemajuan dalam sektor ekonomi tentu tidak akan maksimal tanpa adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Dan sumber daya yang berkualitas tidak akan berkembang lebih baik lagi tanpa adanya fasilitas memadahi yang disediakan oleh negara. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa sebuah pembangunan, bagaimanapun sifatnya, tidak dapat meninggalkan satu sama lain. Dengan kata lain, pembangunan yang paling ideal adalah sebuah pembangunan yang dilaksanakan secara bersama-sama baik di bidang materiil dan spiritual, yang tentunya merupakan sebuah tantangan besar bagi semua negara berkembang.
Partisipasi masyarakat.
Sebuah negara pasti ada karena adanya partisipasi dari masyarakatnya. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah sebaiknya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan yang telah kita rencanakan tadi.
Dalam melaksanakan suatu pembangunan, suatu negara diberikan pilihan mengenai teknik apakah yang akan mereka gunakan. Untuk lebih mudahnya, kita dapat mengambil contoh dari negara-negara lain.
Ada negara yang memilih untuk menjalankan sebuah pembangunan dengan cara sentralisasi. Semua kegiatan dan kebijakan dilakukan oleh pemerintah sedangkan rakyat hanyalah sebagai partisipan pasif, pelaksana kebijakan pemerintah. Cara ini memerlukan kesungguhan serta paksaan dari pemerintah serta adanya kepatuhan dari masyarakatnya.
Namun masih ada satu cara lagi untuk melaksanakan pembangunan. Apabila cara di atas lebih menekankan pada keberadaan sebuah kekuasaan yang memaksa, kita juga dapat melakukan sebuah pemerintahan dengan kekuatan yang sifatnya adalah persuasi kepada rakyat dengan menggunakan nilai-nilai asli yang terdapat dalam masyarakat tersebut (partisipasi masyarakat).
Kedua metode tersebut tentunya bila dilaksanakan dapat membawa perkembangan yang positif bagi suatu negara yang tentu saja tingkat keberhasilan dari diterapkannya metode tersebut tergantung dengan kondisi negara setempat.
Bila kita tinjau dari resiko yang akan kita hadapi, penggunaan metode paksaan pada umumnya lebih beresiko karena metode ini lebih mengutamakan pada pembangunan sektor ekonomi sedangkan rakyat tidak terlalu berkembang. Gejolak-gejolak dan sengketa sosial lebih rawan terjadi terlebih karena metode ini adalah sangat rawan dengan absolutisme pemimpin sehingga keinginan dan aspirasi masyarakat sangat sedikit yang dapat terjaring.
Sebaliknya, dalam metode partisipasi, resiko demikian jauh lebih kecil dan pemerintahan berjalan secara relatif lancar. Kemudian bila kita lihat, dalam taraf tertentu suatu pembangunan pasti akan membutuhkan partisipasi tenaga-tenaga manusia yang kreatif. Maka dapat kita simpulkan bahwa pembangunan dengan adanya partisipasi aktif dalam masyarakat akan lebih dapat menjamin keselarasan atau kontinuitas gerak pembangunan sendiri.
Kepemimpinan
Maka apabila pembangunan hendak dilakukan secara seimbang, yakni dengan partisipasi masyarakat secara aktif, kita sampai kepada sebuah pertanyaan besar yakni pemimpin seperti apakah yang dapat membuat rakyat bersemangat dan bergairah untuk dapat berpartisipasi.
Di sini kita membagi lagi sebuah pemimpin menjadi dua: Pemimpin formal dan pemimpin informal.
Pemimpin formal adalah pemimpin yang memperoleh jabatan karena adanya legalisasi dari apa yang dipimpinnya, misalnya: Presiden, Menteri, dan lain lain. Sedangkan pemimpin informal adalah orang-orang yang memiliki suara dan kepercayaan dari sekelilingnya untuk membuat suatu kebijakan. Yang tentu saja adalah sangat mungkin seorang pemimpin formal juga merupakan seorang pemimpin informal. Pemimpin ini mempunyai legalitas sekaligus legitimasi pada dirinya. Misalnya adalah dalam negara demokrasi di mana para pemimpin informal (kepercayaan rakyat) menjadi seorang pemimpin formal (melalui legalitas pemerintah) melalui pemilihan umum yang dilaksanakan secara jujur dan adil. Pemimpin inilah yang dapat menggerakkan partisipasi aktif dalam masyarakatnya.
Melihat kenyataan yang ada, apakah hal ini mungkin untuk dilaksanakan?
Mari kita menengok negeri kita di mana sebuah partai politik seakan tidak lagi berisi manusia dengan tujuan memajukan bangsa melainkan seolah sebatas menginginkan jabatan saja. Hal ini mungkin terjadi atas beberapa hal.
Persangkaan pertama adalah pada bangsa Indonesia, yang telah berulang kali melakukan perubahan metode kepemimpinan sejak zaman dahulu kala hingga saat ini, khususnya orang Jawa, hidup pada suatu kebudayaan di mana sebuah legalitas lambat laun juga akan membawa legitimasi. Kita hidup dengan jalan bukan lagi memberikan jabatan kepada orang yang kita percaya namun memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang memiliki jabatan.
Persangkaan kedua adalah dengan kuatnya perkembangan dan kemajuan di lingkup-lingkup kecil, misalnya kota, orang-orang yang memiliki kualitas sebagai pemimpin justru sudah menjadi pemimpin di lingkup dia sendiri. Secara kasarnya, dapat kita katakan bahwa yang maju menjadi pemimpin lebih besar adalah pemimpin dengan kualitas nomor dua.
Namun demikian, kedua hal tersebut masihlah sebatas sangkaan dan memerlukan penelitian untuk diuji keilmiahannya. Atas persangkaan tersebut, kita dapat menawarkan beberapa solusi yakni perlunya adanya kesediaan dari pemimpin-pemimpin yang berkualitas untuk dapat maju membawa legitimitas rakyat, dorongan dan keikhlasan dari semua pihak, dan regulasi agar segala hal serta kemajuan yang telah kita dapatkan akan terus bertahan dan bertambah, bukan malah kembali lagi ke titik nol.

ELNA LALITA
2Q – ADMINISTRASI PERPAJAKAN

Custom Post Signature

Custom Post  Signature